Pertamina: Kesiapan Infrastruktur untuk SAF Nasional Bantu Pemutusan Ketergantungan Impor Minyak
New Policy – Jakarta – Kesiapan menyambut era Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar avtur hijau nasional menjadi fokus utama Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan. Ia menegaskan bahwa pengembangan infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung penggunaan SAF merupakan langkah penting dalam mengurangi ketergantungan pada impor minyak mentah global. “Penyediaan bahan bakar avtur membutuhkan ketelitian maksimal dan keandalan yang tak tergoyahkan,” ujar Iriawan dalam pernyataan resmi yang diterima di Jakarta, Senin. Ia menambahkan, upaya ini diharapkan menjadi bukti nyata komitmen Pertamina dalam mencapai target Net Zero Emission (NZE) yang telah ditetapkan.
Pertamina, kata Iriawan, memainkan peran strategis dalam transisi energi hijau. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, termasuk bandara internasional, untuk mempercepat penggunaan energi berbasis potensi dalam negeri. Langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan kemandirian energi nasional. Dengan mendaur ulang dan mengoptimalkan sumber daya lokal, Pertamina berharap menjadi contoh penerapan inovasi dalam sektor energi.
“Kesiapan infrastruktur dan SDM adalah kunci utama agar kita bisa mengurangi ketergantungan pada pasokan minyak impor secara signifikan,” tutur Iriawan.
Kunjungan kerja maraton yang dilakukan Iriawan ke wilayah Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara beberapa hari terakhir dianggap sebagai bentuk antisipasi untuk memastikan ketersediaan energi nasional. Selama kunjungan, ia menyatakan bahwa Pertamina terus memantau kinerja terminal dan fasilitas pendukung agar bisa menjalankan program transisi energi hijau secara efektif. “Program ini tidak hanya tentang produksi, tetapi juga distribusi yang harus optimal dan terukur,” jelas Iriawan.
Pertamina juga mengupayakan peningkatan kapasitas sistem digital untuk mendukung keandalan operasional. Dalam wawancara terpisah, Iriawan menekankan bahwa teknologi seperti Pertamina Integrated Command Center (PICC) dan Terminal Automation System harus dimanfaatkan secara maksimal. Sistem ini berperan dalam memastikan akuntabilitas dan mengurangi risiko kerugian (zero loss) selama proses distribusi. “Dengan digitalisasi, kita bisa mempercepat respons terhadap perubahan kondisi pasar,” tambahnya.
Dalam konteks geopolitik global yang terus berubah, Iriawan mengungkapkan bahwa persiapan infrastruktur seperti tangki penyimpanan, dermaga, dan jalur pipa di Integrated Terminal (IT) Surabaya menjadi prioritas. Terminal ini, yang merupakan salah satu pusat distribusi bahan bakar terbesar di Indonesia, harus tetap stabil meski terjadi gangguan di pasar internasional. “Keberlanjutan produksi bahan bakar hijau bergantung pada pengelolaan aset vital yang berkualitas tinggi,” ujarnya.
Kesiapan IT Surabaya, kata Iriawan, menjadi salah satu titik fokus dalam transformasi energi terbarukan. Ia menyatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan seluruh fasilitas untuk mendistribusikan bahan bakar biodiesel 50 persen (B50) yang akan diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat. “Ini adalah langkah awal menuju penggunaan energi bersih, mulai dari B35 hingga B50, serta bahan bakar hijau lainnya,” terang Iriawan.
Dalam rangkaian kunjungan kerja, Iriawan juga memfokuskan perhatian pada beberapa proyek kritis. Salah satu dari mereka adalah Aviation Fuel Terminal (AFT) Juanda, tempat Pertamina menyiapkan fasilitas yang bisa menampung kebutuhan bahan bakar avtur nasional. “Di AFT Juanda, kami memastikan sistem pengisian dan distribusi selaras dengan standar internasional, sehingga bisa menjadi penggerak utama dalam era energi hijau,” katanya.
Iriawan menyebutkan bahwa penguatan buffer operasional di terminal-terminal domestic diperlukan agar Pertamina tetap siap menghadapi gangguan yang mungkin terjadi di pasar global. “Cadangan operasional ini bisa menjadi pelindung jika terjadi keterlambatan atau kelangkaan minyak mentah di luar negeri,” jelasnya. Ia juga meminta manajemen untuk terus melakukan evaluasi terhadap keandalan sistem, termasuk kecepatan respons dan keakuratan data.
Di sisi lain, perusahaan mengupayakan integrasi antara terminal dan layanan penerbangan. Iriawan mengatakan bahwa kolaborasi dengan bandara internasional membantu Pertamina dalam menciptakan jaringan distribusi yang lebih luas dan efisien. “Dengan menggandeng pemangku kepentingan, kita bisa mempercepat transformasi energi hijau dan mengurangi risiko ketergantungan pada pasokan luar negeri,” tegas Iriawan.
Kesiapan Pertamina untuk menyambut SAF nasional juga mencakup pembelajaran dari pengalaman sebelumnya. Ia menyatakan bahwa penyediaan bahan bakar avtur hijau tidak hanya memerlukan teknologi canggih, tetapi juga kebijakan yang konsisten. “Kita harus membangun sistem yang bisa bertahan meski ada tantangan eksternal,” katanya. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan kekuatan produksi energi dalam negeri.
Sebagai langkah konkret, Pertamina terus mengembangkan fasilitas pendukung, termasuk memperbaiki kualitas SDM di seluruh wilayah. Iriawan mengungkapkan bahwa pelatihan dan pengembangan karyawan menjadi bagian penting dari persiapan ini. “Kita perlu SDM yang terampil dan berorientasi pada inovasi, agar bisa menjalankan operasi yang kompleks dan berkelanjutan,” jelasnya. Dengan demikian, Pertamina menargetkan peningkatan kapasitas produksi dan distribusi bahan bakar hijau seiring berkembangnya permintaan dari sektor penerbangan.
Iriawan juga menyoroti peran penting dari kemitraan strategis dalam mewujudkan transisi energi. Ia menegaskan bahwa kolaborasi dengan pihak terkait, seperti perusahaan energi lain dan pemerintah daerah, akan memperkuat kemampuan Pertamina dalam mengelola bahan bakar avtur hijau. “Sinergi ini bisa mempercepat progres dan memastikan penerapan energi hijau secara massal,” katanya. Dengan penerapan sistem yang lebih modern, Pertamina berharap bisa menjadi model dalam pengelolaan energi yang berkelanjutan.
Dalam keseluruhan rencana, Iriawan menekankan bahwa kesiapan untuk SAF nasional bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang konsistensi dalam implementasi. Ia menjamin bahwa Pertamina akan terus berupaya meningkatkan kualitas layanan, baik dalam pengelolaan infrastruktur maupun SDM, guna memenuhi target NZE. “Kita harus siap menjawab tantangan global dengan solusi lokal yang inovatif,” tutupnya.