KB Bank Arahkan Pertumbuhan Kredit Lebih Moderat Tahun 2026
Special Plan – Di tengah dinamika perubahan kondisi makroekonomi, PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) telah menyesuaikan strategi pertumbuhan kredit tahun 2026. Perusahaan menekankan pentingnya menjaga kualitas aset dengan menurunkan target penyaluran kredit secara lebih bertahap. Hal ini diungkapkan oleh Kunardy Darma Lie, Direktur Utama KB Bank, dalam wawancara di Jakarta, Kamis lalu.
Strategi Penyesuaian untuk Keberlanjutan
Kunardy menegaskan bahwa KB Bank tidak akan memaksakan penyaluran kredit hanya demi memenuhi angka target, jika itu tidak sejalan dengan prinsip kehati-hatian. “Kita ingin mengutamakan kualitas dalam penyaluran kredit. Jadi, kita tidak ingin memaksakan penyaluran kredit hanya demi mencapai target jika tidak sesuai dengan prinsip kehati-hatian,” katanya.
Dalam pernyataannya, Kunardy menyebut bahwa perubahan kondisi makroekonomi, seperti kenaikan suku bunga dan fluktuasi nilai tukar, mengharuskan KB Bank menyesuaikan rencana bisnis bank (RBB) yang sebelumnya menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 15 persen. “Target kita sekarang lebih kecil, mendekati proyeksi pertumbuhan kredit industri, sekitar 8 hingga 12 persen,” jelasnya. Menurut Kunardy, penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset, sebagaimana arahan dari Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Penyaluran Kredit ke Sektor Produktif
KB Bank tetap berfokus pada sektor-sektor produktif dalam menyalurkan kredit, karena dianggap dapat mendukung aktivitas usaha serta perekonomian nasional. Namun, penyaluran tersebut akan dilakukan secara selektif. “Kita mempertimbangkan kualitas debitur dan proyeksi sektor usaha sebelum menyalurkan kredit,” kata Kunardy.
Ia juga menyoroti bahwa kenaikan suku bunga memengaruhi biaya dana dan bunga kredit, namun perusahaan lebih mementingkan pengendalian risiko volatilitas nilai tukar. “Nilai tukar yang fluktuatif dapat mengganggu pelaku usaha yang bergantung pada impor, karena mereka belum tentu bisa langsung mengalihkan kenaikan biaya ke konsumen,” tambahnya. Kunardy menekankan bahwa KB Bank terus memantau dampak perubahan makroekonomi terhadap kinerja debitur, termasuk kestabilan prospek bisnis.
Strategi Mengatasi Kredit Bermasalah
Menurut Henry Sawali, Direktur Kredit KB Bank, perusahaan sedang menerapkan berbagai strategi untuk memperkuat kualitas kredit. “Kita akan menggunakan pendekatan yang lebih ketat dalam menagih kredit bermasalah, menjual portofolio, dan melalui lelang sebagai langkah paling akhir,” jelas Henry.
Henry menyebutkan bahwa rasio pinjaman berisiko (LAR) KB Bank pada 2021 sempat mencapai sekitar 65 persen, namun terus diperbaiki melalui langkah-langkah tersebut. “Dengan strategi yang kita lakukan, LAR kita sekarang telah menurun secara signifikan,” ujarnya. Dalam laporan keuangan yang diterbitkan per Maret 2026, rasio NPL (Non Performing Loan) gross KB Bank mencapai 8,44 persen. “Kita terus menekan NPL ini dengan pendekatan yang telah disusun,” tambah Henry.
Prinsip Kualitas Lebih Utama
Widodo Suryadi, Direktur Wholesale KB Bank, menyampaikan bahwa perusahaan tetap menempatkan kualitas sebelum memperluas skala bisnis. “Pertumbuhan kredit akan diarahkan moderat, jadi kami tidak hanya mengejar volume atau target, tetapi prinsip kehati-hatian sangat penting dalam menentukan keputusan,” katanya.
Widodo menjelaskan bahwa KB Bank telah lebih selektif dalam menilai dan memantau kredit, agar portofolio yang ada tidak mengalami penurunan kualitas di masa depan. “Kami memastikan bahwa setiap kredit yang diberikan memiliki potensi peningkatan nilai dan risiko yang terukur,” tambahnya. Selain itu, KB Bank juga fokus pada peningkatan tata kelola dan manajemen risiko untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.
Kinerja Triwulan I 2026
Dalam triwulan pertama 2026, KB Bank mencatat pertumbuhan kredit berkualitas atau normal loan sebesar 4,76 persen secara tahunan. Rasio dana murah (CASA) mencapai 31,55 persen, sedangkan Net Interest Margin (NIM) sebesar 2,09 persen. “Kami juga berhasil mencapai Pre-Provision Operating Profit (PPOP) positif sebesar Rp9 miliar pada periode tersebut,” ujar Widodo.
Menurut Direktur Utama Kunardy, transformasi yang sedang dijalani KB Bank bukan hanya sekadar perubahan strategi, tetapi merupakan upaya jangka panjang untuk membangun pertumbuhan yang lebih sehat. “Kita sedang membangun fondasi yang kuat melalui manajemen risiko dan peningkatan kualitas aset,” katanya. Ia menambahkan bahwa perusahaan terus mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam segala aspek operasional.
Kebijakan moderat ini tidak hanya berdampak pada pertumbuhan kredit, tetapi juga memengaruhi kebijakan internal. KB Bank sedang menyesuaikan metrik evaluasi kredit untuk lebih mengukur kemampuan debitur dalam menjaga kualitas pembayaran. “Kita ingin memastikan bahwa setiap kredit yang diberikan memiliki peluang baik untuk dikembalikan tepat waktu,” jelas Kunardy.
Dengan pendekatan ini, KB Bank berharap dapat menciptakan stabilitas di tengah tekanan eksternal yang terus mengubah dinamika pasar keuangan. Perusahaan juga terus memperkuat kerja sama dengan lembaga pemerintah dan lembaga keuangan lainnya untuk mendukung kebijakan makroekonomi yang lebih terarah. “Kita yakin bahwa pendekatan ini akan memberikan hasil yang lebih optimal dalam jangka panjang,” tutup Kunardy.