UI ajarkan cara cuci tangan kepada 200 anak migran Myanmar di Thailand
Daftar Isi
Atapkitadonasi.com – UI ajarkan cara cuci tangan kepada sekitar 200 anak migran Myanmar di Samut Sakhon, Thailand. Kegiatan yang dipimpin oleh 10 mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK UI) bersama satu dosen dan mitra internasional ini menyasar anak-anak berusia 6–12 tahun. Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FIK UI, Ns. Indah Permata Sari, menjelaskan bahwa cuci tangan dipilih sebagai fokus edukasi karena merupakan tindakan preventif yang sederhana, murah, namun berdampak besar bagi kesehatan masyarakat.
Pendekatan Edukasi yang Menyenangkan untuk Anak Migran
Materi disampaikan melalui poster visual, permainan interaktif, peragaan langsung, dan praktik mencuci tangan. St. Anna Catholic Learning Center for Migrants menjadi mitra kegiatan karena merupakan salah satu tempat anak-anak komunitas migran memperoleh akses pembelajaran dan pelayanan sosial. Indah menegaskan bahwa bagi FIK UI, lingkungan tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengabdian untuk memperkuat literasi kesehatan dasar, khususnya perilaku hidup bersih dan sehat.
“Bagi FIK UI, lingkungan tersebut menjadi ruang pembelajaran sekaligus pengabdian untuk memperkuat literasi kesehatan dasar, khususnya perilaku hidup bersih dan sehat,” kata Indah.
Antusiasme anak-anak terlihat jelas ketika mereka tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga secara sukarela maju memperagakan kembali langkah-langkah mencuci tangan yang telah dipelajari. Sesi permainan membuat interaksi berlangsung lebih cair dan menyenangkan, sehingga pesan kesehatan tersampaikan tanpa kesan menggurui. Melalui pendekatan ini, UI ajarkan cara cuci tangan bukan sekadar transfer informasi, melainkan pengalaman belajar yang membangun kebiasaan positif sejak dini.
Kolaborasi Lintas Negara dalam Summer Course
Kegiatan bertajuk “Empowering Myanmar Migrant Children Through Healthy Habits” merupakan bagian dari Summer Course: Cultural Diversity in Healthcare yang diselenggarakan melalui kolaborasi FIK UI dan Faculty of Nursing, Mahidol University. Program ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar sekaligus berinteraksi langsung dengan komunitas berlatar belakang budaya beragam. Selain FIK UI dan Mahidol University, kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari Huazhong University of Science and Technology (HUST), Kaohsiung Medical University (KMU), Zhejiang Chinese Medical University (ZCMU), serta Universitas Gadjah Mada (UGM).
Indah menjelaskan bahwa melalui kegiatan ini, mahasiswa FIK UI memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu keperawatan komunitas sekaligus mengembangkan kemampuan komunikasi, empati, adaptasi budaya, dan kerja sama lintas negara. Dalam konteks masyarakat lintas budaya, tenaga kesehatan dituntut mampu menyesuaikan cara berkomunikasi dengan bahasa, karakteristik, dan kondisi sosial masyarakat yang dilayani. Kolaborasi lintas negara tersebut menjadikan kegiatan bukan sekadar edukasi kesehatan, melainkan juga ruang pertukaran pengalaman antarbudaya.
Seorang mahasiswa FIK UI semester empat bernama Dziki mengungkapkan kegembiraannya dapat berbagi pengetahuan dengan anak-anak migran. “Awalnya memang terkendala bahasa, tetapi ketika sudah masuk ke praktik dan bermain bersama, kami bisa lebih menikmati interaksinya dan anak-anak juga terlihat sangat antusias,” ujarnya. Mahasiswa dari Thailand membantu menerjemahkan penjelasan, sementara saat permainan dan praktik berlangsung, mahasiswa serta relawan dari berbagai negara turut berinteraksi langsung dengan anak-anak.
“Kami sangat senang menyambut kedatangan mahasiswa internasional. Kehadiran mereka membawa kebahagiaan bagi anak-anak dan membuat mereka merasakan bahwa ada banyak orang yang peduli terhadap mereka,” ujar
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is UI ajarkan cara cuci tangan kepada 200?
UI ajarkan cara cuci tangan kepada 200 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does UI ajarkan cara cuci tangan kepada 200 matter?
UI ajarkan cara cuci tangan kepada 200 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.