Internasional

Special Plan: China kirim tim kedua untuk bantu atasi ebola di RD Kongo

Special Plan: China Kirim Tim Kedua untuk Bantu Atasi Ebola di RD Kongo

Special Plan – Sebagai bagian dari Special Plan yang telah dirancang sejak awal wabah, Pemerintah Tiongkok kembali mengirimkan tim medis tambahan untuk meningkatkan upaya penanganan Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC). "Tim kedua dari Tiongkok berangkat dari Beijing pada dini hari 3 Juli 2026 menuju DRC untuk melanjutkan kerja sama dalam upaya mengendalikan penyakit mematikan ini," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, dalam konferensi pers di Beijing. Hingga 2 Juli 2026, wabah Ebola di DRC telah mencapai 1.460 kasus, dengan 447 kematian tercatat, menurut data terbaru. Special Plan ini memperlihatkan komitmen Tiongkok untuk berperan aktif dalam respons kesehatan global.

Peran Tim Medis Tiongkok dalam Respons Ebola

Tim medis pertama Tiongkok, yang terdiri dari lima orang, telah tiba di Kinshasa, ibu kota DRC, sejak 2 Juni 2026. Tim tersebut telah menunjukkan kontribusi signifikan dalam penanganan krisis kesehatan, termasuk penerapan protokol isolasi dan peningkatan kapasitas fasilitas kesehatan. Guo Jiakun menekankan bahwa Special Plan akan terus memperkuat pertukaran ilmiah dengan DRC dan organisasi internasional, serta menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan lokal. "Kerja sama ini memungkinkan transfer pengetahuan dan pengalaman yang dapat mempercepat penurunan tingkat penyebaran virus," tambahnya.

Ekspansi Special Plan dan Pemantauan Wabah

Tim kedua yang dikirimkan pada 3 Juli 2026 terdiri dari para ahli epidemiologi, pengobatan klinis, dan karantina kesehatan. Mereka akan fokus pada pemantauan kasus baru dan koordinasi dengan pihak setempat untuk mempercepat pengendalian wabah. "Dengan Special Plan, Tiongkok berharap dapat meningkatkan efisiensi respons dan memberikan bantuan yang lebih berkelanjutan," jelas Guo Jiakun. Pemerintah Tiongkok juga menyatakan kesediaan untuk terus memberikan dukungan teknis dan logistik kepada negara-negara Afrika yang terkena wabah, terutama DRC.

Wabah Ebola saat ini terkonsentrasi di 34 zona kesehatan utama, termasuk provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan. Zona Lolwa di Ituri menjadi episentrum utama, dengan jumlah pasien yang terus meningkat. Hingga saat ini, sebanyak 595 pasien sedang menjalani isolasi atau dirawat di rumah sakit, sementara 213 dari mereka telah pulih. Tingkat pelacakan kontak di tiga provinsi yang terdampak mencapai 82,7 persen, yang menunjukkan upaya yang intensif untuk memutus rantai penyebaran.

“Wabah ini masih sangat serius, karena peningkatan kasus dan kematian terjadi secara pesat dibandingkan wabah sebelumnya,” peringat Direktur Jenderal CDC Afrika, Jean Kaseya, pada 2 Juli 2026. Ia menekankan perlunya Special Plan yang lebih luas untuk menghadapi ancaman virus Bundibugyo, yang dikenal sebagai strain Ebola yang lebih agresif.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), uji klinis terhadap obat antivirus remdesivir dan antibodi monoklonal MBP134 telah dimulai di DRC. Ini merupakan bagian dari Special Plan yang mencakup pengembangan solusi pengobatan. Presiden DRC Félix Tshisekedi telah mengumumkan rencana tanggap darurat senilai 319 juta dolar AS, yang akan didukung oleh bantuan internasional hingga 910 juta dolar AS. Dengan Special Plan yang terus diperluas, harapan untuk mengendalikan wabah semakin meningkat.

Rina Wibowo

Rina Wibowo fokus pada penulisan konten edukasi donasi dan inspirasi berbagi. Melalui artikelnya di atapkitadonasi.com, ia membantu pembaca memahami berbagai bentuk bantuan sosial serta cara menyalurkannya secara tepat. Rina percaya bahwa informasi yang jelas dapat mendorong lebih banyak orang untuk berbuat kebaikan.