Dukung Program Komdigi, LKBN ANTARA Gelar Pameran Foto Perisai Tunas
Key Issue – Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA kembali menghadirkan inisiatif edukatif melalui pameran fotografi karya jurnalis berjudul “Perisai Tunas”. Acara ini berlangsung di Museum ANTARA Heritage Center (AHC) di Pasar Baru, Jakarta Pusat, selama periode 25 Juni hingga 10 Juli 2026. Pameran yang menampilkan rangkaian karya visual ini bertujuan memberikan wawasan penting mengenai upaya perlindungan generasi muda di tengah dinamika teknologi digital yang terus berkembang. Selain sebagai bentuk promosi karya jurnalistik, kegiatan ini juga menjadi platform untuk menyoroti peran media dalam membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat muda.
Program Komdigi: Membangun Masa Depan yang Cerdas
Pameran “Perisai Tunas” secara spesifik dirancang sebagai bagian dari pengembangan program Komdigi, atau Kompetensi Digital, yang dicanangkan oleh LKBN ANTARA. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap isu-isu digital, mulai dari keamanan data hingga pemanfaatan teknologi secara bijak. Melalui pameran foto, LKBN ANTARA mencoba memvisualisasikan berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi remaja di dunia maya. Selain itu, acara ini juga bertujuan memperkuat kolaborasi antara lembaga media dan komunitas pendidikan dalam menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan produktif untuk anak-anak.
Dalam era di mana informasi mengalir cepat dan media sosial menjadi bagian integral kehidupan sehari-hari, generasi muda sering kali terpapar berbagai risiko, seperti cyberbullying, kecanduan gadget, atau penyebaran berita palsu. Pameran ini berupaya menjawab tantangan tersebut dengan menampilkan karya-karya yang memotret kehidupan sehari-hari remaja serta pesan-pesan edukatif yang disampaikan melalui visual. Pemilihan tema “Perisai Tunas” menggambarkan upaya mengembangkan perlindungan digital untuk anak-anak sebagai pilar kesadaran kritis di masa depan.
Fotografer dan Isi Pameran: Penggalian Kekuatan Visual
Karya-karya dalam pameran ini dihasilkan oleh tim fotografer profesional yang bekerja sama dengan LKBN ANTARA, termasuk Azhfar Muhammad Robbani, Irfan Hardiansah, Chairul Fajri, dan Rijalul Vikry. Mereka memadukan teknik jurnalistik dengan estetika fotografi untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam. Setiap foto dipilih berdasarkan kemampuannya dalam menggambarkan perubahan sosial yang berkaitan dengan kemajuan teknologi. Misalnya, beberapa karya menyoroti bagaimana anak-anak menggunakan media sosial untuk berbagi kreativitas, sementara lainnya memperlihatkan dampak negatif dari penggunaan internet yang tidak terarah.
Pameran ini juga dirancang untuk menjadi sarana interaktif, di mana pengunjung diberikan kesempatan untuk menjelajahi berbagai sudut pandang tentang digitalisasi. Setiap rangkaian foto dilengkapi dengan penjelasan singkat yang menjelaskan konteks sosial, teknologi, dan isu yang diangkat. Langkah ini bertujuan untuk menjembatani antara visual menarik dan pemahaman mendalam mengenai dunia digital. Dengan cara ini, LKBN ANTARA mengharapkan pameran ini dapat menjadi referensi edukatif bagi pelajar, orang tua, maupun pengambil kebijakan.
Perisai Tunas: Simbol Perlindungan Digital yang Berkelanjutan
Tema “Perisai Tunas” mengambil makna simbolis dari perisai, yang dianggap sebagai perlindungan, dan tunas, yang merepresentasikan pertumbuhan. Pameran ini diharapkan menjadi “perlindungan” bagi generasi muda dengan mengajarkan cara menghadapi dunia digital secara cermat. Dengan memperlihatkan realitas kehidupan anak-anak di bawah sinar teknologi, karya-karya ini menyoroti bagaimana media dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif jika digunakan dengan bijak.
Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi jurnalis dan fotografer untuk mengeksplorasi cara cerita visual dapat memengaruhi persepsi masyarakat. Melalui lensa kamera, mereka mencoba mengungkap kompleksitas antara kebebasan digital dan tanggung jawab individu. Pameran ini diharapkan mendorong masyarakat untuk memikirkan ulang bagaimana teknologi bisa dimanfaatkan sebagai alat pengembangan diri, bukan hanya sebagai sarana hiburan.
Dalam menjalankan program Komdigi, LKBN ANTARA memperkuat komitmen untuk menggali potensi jurnalistik dalam membangun kesadaran digital. Kegiatan ini bukan hanya untuk menampilkan karya, tetapi juga untuk membangun dialog antara media, pendidikan, dan masyarakat. Dengan menghadirkan visual yang relevan, pameran “Perisai Tunas” menjadi jembatan antara teori dan praktek, membantu generasi muda memahami bahwa teknologi bukanlah musuh, tetapi senjata yang bisa diarahkan untuk kebaikan.
“Melalui pameran ini, kami ingin menunjukkan bahwa teknologi digital bisa menjadi alat edukasi yang kuat, asal digunakan dengan tepat. Generasi muda perlu dilindungi, bukan hanya secara fisik, tetapi juga melalui kesadaran akan dampak digital dalam kehidupan sehari-hari,” kata salah satu fotografer yang terlibat dalam acara.
Kehadiran pameran ini juga menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam menciptakan ekosistem media yang sehat. Dengan memperkenalkan karya-karya yang beragam, LKBN ANTARA menunjukkan komitmen untuk mendukung pembelajaran yang tidak hanya berbasis teori, tetapi juga berbasis pengalaman nyata. Pameran ini diharapkan menjadi salah satu bentuk pencerahan yang bisa memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat muda Indonesia.
Selain itu, pameran ini juga memberikan ruang bagi komunitas lokal untuk berpartisipasi dalam diskusi mengenai tantangan digital. Berbagai sesi diskusi dan workshop akan diselenggarakan sepanjang acara, yang membahas topik seperti digital literacy, keamanan online, dan cara mengkritik informasi secara objektif. Dengan kombinasi antara visual, narasi, dan interaksi langsung, LKBN ANTARA berusaha menciptakan pengalaman yang memperkaya pemahaman pembelajar tentang dunia digital.
Dengan menggabungkan inovasi teknologi dan tradisi jurnalistik, pameran “Perisai Tunas” menjadi bukti bahwa media cetak masih memiliki peran vital dalam membentuk generasi muda yang tangguh dan kritis. Kegiatan ini juga mengajarkan bahwa perisai digital bukan hanya berupa aplikasi atau perangkat, tetapi juga merupakan kebiasaan, pengetahuan, dan kesadaran akan penggunaan teknologi yang terarah. Harapan besar di balik pameran ini adalah agar anak-anak tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga menjadi penguasa teknologi yang bisa menjaga diri dari dampak negatif.