Video

Panen raya jagung – cara Lapas Perempuan Palu upayakan ketahanan pangan

Panen Raya Jagung, Cara Lapas Perempuan Palu Upayakan Ketahanan Pangan

Kegiatan Produktif di Tengah Kondisi Pandemi

Panen raya jagung – Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah melakukan panen jagung secara besar-besaran serta menanamkan 1.000 bibit ikan nila di area lahan tidur yang berukuran 1.200 meter persegi di Lapas Perempuan Kelas III Palu, Selasa (5/5). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya lembaga pemasyarakatan untuk meningkatkan kemandirian pangan di tengah tantangan pandemi yang masih berlangsung.

Inisiatif Lokal untuk Kebutuhan Masyarakat

Panen raya jagung yang diadakan di Lapas Perempuan Palu bukan hanya sekadar acara rutin, melainkan bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Aktivitas ini dilakukan sebagai implementasi dari program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, yang bertujuan mendorong keberlanjutan pertanian dan distribusi pangan di wilayah Indonesia. Dengan memanfaatkan lahan yang tidak terpakai, Lapas Palu berharap dapat menciptakan sumber daya lokal yang berkelanjutan.

Panen jagung tersebut dilakukan oleh para tahanan perempuan yang terlibat dalam program pertanian di dalam kawasan Lapas. Mereka diberikan pelatihan teknis dalam bertani dan memanfaatkan ruang terbuka untuk memproduksi bahan makanan pokok. Sementara itu, aktivitas menanam ikan nila di kolam khusus menjadi bagian dari pengembangan usaha ternak yang mendukung pola makan sehat dan pengurangan ketergantungan pada pasokan eksternal.

Kolaborasi untuk Penguatan Kemandirian

Direktur Lapas Perempuan Palu, M. Izfaldi, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan kolaborasi antara petugas lapas dan para tahanan dalam menciptakan sistem produksi yang efisien. “Kegiatan seperti ini bertujuan menumbuhkan kebiasaan produktif di dalam kawasan pemasyarakatan, sehingga masyarakat sekitar bisa merasakan manfaat dari hasil pertanian dan usaha ternak yang dijalankan,” ujarnya.

Lahan tidur seluas 1.200 meter persegi telah diubah menjadi lahan pertanian yang terorganisasi. Tahanan perempuan dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang bertugas menanam dan merawat tanaman jagung serta mengelola kolam ikan. Selain itu, Lapas Palu juga menyediakan alat pertanian dan bantuan teknis dari tim agronomi setempat. “Kita berharap bisa menciptakan lingkungan yang lebih bermakna bagi para tahanan, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat sekitar,” tambah Rizky Bagus Dhermawan, salah satu petugas lapas yang turut memastikan keberhasilan program.

Peluang Ekonomi dan Nutrisi untuk Tahanan

Program pertanian dan usaha ternak ini tidak hanya memberikan manfaat bagi keberlanjutan pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para tahanan. Hasil panen jagung dan ikan nila digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam Lapas serta disumbangkan ke masyarakat sekitar. “Selain itu, hasil pertanian ini juga diharapkan bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi tahanan yang menjalani program kerja,” kata Suwanti, seorang warga binaan yang aktif dalam kegiatan tersebut.

Sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan, Lapas Perempuan Palu juga fokus pada penggunaan bahan-bahan lokal. Jagung yang dipanen diperuntukkan untuk konsumsi tahanan dan dijual ke pasar lokal. Sementara itu, ikan nila yang dihasilkan akan digunakan sebagai sumber protein bagi warga binaan serta disumbangkan ke institusi pendidikan dan kesehatan di sekitar Palu. “Ini adalah langkah konkret untuk menunjukkan bahwa pemasyarakatan bisa berkontribusi pada kebutuhan pangan, bukan hanya dalam aspek hukum,” imbuh Suwanti.

Tantangan dan Harapan di Tengah Pandemi

Kendati sempat menghadapi tantangan karena pandemi, kegiatan panen jagung dan pengembangan usaha ternak tetap berjalan lancar. Petugas lapas dan tahanan mematuhi protokol kesehatan sambil menjaga produktivitas. “Kita berusaha memaksimalkan setiap ruang dan sumber daya yang ada, agar tetap bisa berproduksi meski dalam kondisi yang berubah,” jelas Rizky Bagus Dhermawan.

Pelaksanaan program ini juga diharapkan menjadi contoh terbaik bagi lapas-lapas lain di Indonesia. Dengan memanfaatkan lahan tidur, Lapas Palu bisa menjadi pusat produksi pangan yang mandiri. “Kita ingin menunjukkan bahwa kegiatan produktif dalam pemasyarakatan bisa menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat, baik secara langsung maupun melalui manfaat ekonomi,” kata Izfaldi.

Pelatihan dan Keterlibatan Masyarakat

Para tahanan tidak hanya terlibat dalam aktivitas fisik, tetapi juga diberikan pelatihan teknis tentang pertanian dan teknik budidaya ikan. Materi pelatihan tersebut disampaikan oleh para petugas lapas yang bekerja sama dengan ahli pertanian setempat. “Dengan adanya pelatihan ini, para tahanan bisa memahami cara mengelola lahan secara optimal, sekaligus meningkatkan keterampilan mereka,” ujar Suwanti.

Program ini juga melibatkan masyarakat sekitar untuk ikut serta dalam pengelolaan hasil pertanian. “Kita berharap masyarakat bisa mendukung upaya kita, karena ini adalah langkah yang berdampak luas,” tambah Izfaldi. Selain itu, hasil panen akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga binaan dan disumbangkan ke institusi lain yang membutuhkan, seperti panti asuhan atau pusat pengobatan.

Kelanjutan dan Harapan untuk Masa Depan

Kanwil Lapas Sulawesi Tengah berencana mengembangkan program ini lebih lanjut. Tujuan utamanya adalah menciptakan sistem pangan yang berkelanjutan dan memastikan setiap tahanan memiliki akses ke bahan makanan sehat. “Kita ingin mengevaluasi hasil dari kegiatan ini, lalu menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” jelas Rizky Bagus Dhermawan.

Panen jagung dan pengembangan ikan nila di Lapas Perempuan Palu menjadi bagian dari upaya nasional dalam meningkatkan ketahanan pangan. Kegiatan ini menggambarkan bahwa lembaga pemasyarakatan bisa menjadi penggerak perubahan, baik dalam bidang ekonomi maupun sosial. Dengan pendekatan kreatif, Lapas Palu mampu memanfaatkan ruang yang terabaikan menjadi sumber daya produktif.

Kanwil Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah, melalui kegiatan ini, menunjukkan komitmen untuk mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Program penguatan ketahanan pangan nasional tidak hanya menjadi fokus pemerintah, tetapi juga diaplikasikan secara langsung di tingkat lokal. “Kami berharap ini bisa menjadi contoh bagi lapas-lapas lain, bahwa pengelolaan sumber daya lokal sangat penting untuk mendorong kemandirian,” pungkas Suwanti.

Dengan demikian, Lapas Perempuan Palu bukan hanya tempat pemberian hukuman, tetapi juga pusat pembelajaran dan produksi yang

Nadia Ramadhan

Nadia Ramadhan menulis seputar donasi, kepedulian sosial, dan peran masyarakat dalam membantu sesama. Di atapkitadonasi.com, ia menghadirkan artikel yang bersifat edukatif dan reflektif, terutama terkait makna berbagi di bulan-bulan istimewa dan dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, donasi bukan sekadar memberi, tetapi juga memahami dampaknya.