Dunia

BRICS berkumpul di India saat isu global dipengaruhi perang AS-Iran

KTT-Ke-18-BRICS-Di-India-110926-as-2-2
Foto : Budi Santoso - atapkitadonasi.com
Daftar Isi
  1. BRICS Bertemu di New Delhi di Tengah Tekanan Konflik dan Ekonomi Dunia
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

BRICS Bertemu di New Delhi di Tengah Tekanan Konflik dan Ekonomi Dunia

Atapkitadonasi.com – Para pemimpin BRICS mulai berkumpul di New Delhi, India, pada Sabtu, 12 September, saat perhatian dunia tertuju pada dua konflik berkepanjangan: perang Amerika Serikat-Iran yang telah memasuki bulan ketujuh serta perang Rusia-Ukraina yang sudah berjalan menuju tahun kelima.

Pertemuan tingkat tinggi ini berlangsung ketika dampak konflik di Timur Tengah meluas ke berbagai sektor ekonomi internasional. Gangguan pada pasar energi memicu kekhawatiran baru tentang ketersediaan pasokan, keamanan jalur perdagangan, serta tekanan inflasi yang dapat dirasakan banyak negara.

KTT Pemimpin BRICS ke-18 menjadi forum bagi kelompok yang kini telah berkembang menjadi 11 anggota penuh. Awalnya, BRICS dibentuk oleh Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Nama kelompok tersebut berasal dari huruf awal lima negara pendiri itu.

Keanggotaan BRICS kemudian bertambah dengan masuknya Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Perluasan ini memperbesar jangkauan politik, ekonomi, dan demografis kelompok tersebut di tingkat global.

Harapan untuk Dialog dan Stabilitas

Sehari sebelum agenda utama dimulai, Perdana Menteri India Narendra Modi menyampaikan harapannya agar forum di New Delhi melahirkan pembicaraan yang konstruktif dan memiliki arti penting bagi negara-negara peserta.

China juga menekankan harapan untuk memperkuat kerja sama antarsesama anggota BRICS. Beijing memandang dialog serta perundingan sebagai jalan untuk menangani perbedaan, sambil menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan maupun dunia.

Dalam konteks konflik yang sedang berlangsung, seruan terhadap multilateralisme memperoleh perhatian khusus. Negara-negara anggota menghadapi kepentingan nasional dan pandangan politik yang beragam, namun forum BRICS tetap menyediakan ruang untuk membahas tantangan bersama yang melintasi batas negara.

Pada hari pertama, para pemimpin mengikuti pertemuan tertutup bagi anggota penuh dengan tema

“Tata Kelola Global Inklusif dan Penguatan Multilateralisme”.

Agenda tersebut mencerminkan fokus BRICS terhadap representasi negara berkembang dalam tata kelola internasional. Isu ini menjadi semakin relevan ketika gejolak geopolitik berdampak langsung terhadap harga energi, perdagangan lintas negara, serta ketahanan ekonomi nasional.

Pemimpin yang Hadir

Sejumlah kepala negara dan pejabat tinggi hadir dalam KTT di India. Presiden China Xi Jinping, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, serta Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi turut ambil bagian dalam pertemuan tersebut.

Indonesia diwakili oleh Presiden Prabowo Subianto. Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali juga hadir, bersama Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan yang mewakili Uni Emirat Arab.

Brasil mengirim Menteri Luar Negeri Mauro Vieira sebagai wakilnya. Arab Saudi diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.

Selain sesi pembahasan resmi, rangkaian hari pertama mencakup kunjungan ke pameran Bharat Innovates, kegiatan penanaman pohon, dan jamuan makan malam yang diselenggarakan Narendra Modi. Agenda semacam ini memberi kesempatan bagi para pemimpin untuk membangun komunikasi di luar ruang perundingan formal.

Agenda Hari Kedua dan Pernyataan Bersama

Pada hari kedua, KTT akan berlanjut dengan sesi terbuka bertajuk

“Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan: Membentuk Masa Depan untuk Pertumbuhan Global yang Inklusif.”

Topik tersebut menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai bagian dari pembahasan yang lebih luas, termasuk kemampuan negara menghadapi krisis, pemanfaatan inovasi, penguatan kemitraan, dan keberlanjutan pembangunan.

Para pemimpin BRICS diperkirakan menerbitkan pernyataan bersama setelah rangkaian pertemuan selesai. Dokumen itu berpotensi menjadi penanda posisi kelompok terhadap isu-isu internasional yang sedang mengemuka, termasuk perdamaian, kerja sama ekonomi, dan tata kelola global.

BRICS juga telah membuka kerangka kemitraan untuk sejumlah negara lain. Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam tercatat sebagai negara mitra kelompok tersebut.

Keterlibatan negara mitra memperluas jaringan dialog BRICS tanpa serta-merta menjadikan seluruhnya anggota penuh. Bagi negara-negara yang terlibat, format ini membuka ruang untuk membahas kepentingan perdagangan, pembangunan, investasi, dan isu global dalam cakupan yang lebih luas.

Bobot Ekonomi dan Demografi BRICS

BRICS kini mencakup sekitar 49,5 persen penduduk dunia, sekitar 40 persen produk domestik bruto global, serta 26 persen perdagangan dunia. Skala tersebut membuat setiap pertemuan tingkat tinggi kelompok ini dipantau karena keputusan dan arah kerja samanya dapat memiliki dampak lintas kawasan.

Dengan komposisi anggota yang mencakup negara-negara besar di Asia, Afrika, Timur Tengah, Eurasia, dan Amerika Selatan, BRICS menghadirkan beragam kepentingan ekonomi serta politik. Keragaman itu menjadi kekuatan sekaligus tantangan ketika kelompok berusaha menyusun pandangan bersama.

Situasi global saat ini memperlihatkan bahwa konflik bersenjata tidak hanya memengaruhi negara yang terlibat langsung. Perubahan harga energi, risiko pada distribusi barang, dan meningkatnya biaya logistik dapat menjalar ke pasar internasional serta kehidupan masyarakat di banyak negara.

Karena itu, pembicaraan di New Delhi tidak hanya penting bagi anggota BRICS. Pertemuan ini juga menjadi salah satu ruang diplomasi yang dapat membentuk respons kolektif terhadap ketidakpastian ekonomi dan keamanan global.

KTT BRICS sebelumnya diselenggarakan di Rio de Janeiro, Brasil, pada 2025. Pertemuan di India kali ini berlangsung pada saat kelompok tersebut memiliki keanggotaan lebih luas dan menghadapi lingkungan internasional yang semakin kompleks.

Frequently Asked Questions

What is BRICS berkumpul di India saat isu global?

BRICS berkumpul di India saat isu global is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BRICS berkumpul di India saat isu global matter?

BRICS berkumpul di India saat isu global matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Budi Santoso - atapkitadonasi.com

Budi Santoso - atapkitadonasi.com

Budi Santoso merupakan kontributor yang menaruh perhatian pada transparansi, keamanan, dan praktik baik dalam dunia donasi dan amal. Di atapkitadonasi.com, ia menulis artikel informatif seputar panduan berdonasi, etika berbagi, serta edukasi publik agar masyarakat lebih cermat dalam menyalurkan bantuan. Budi meyakini bahwa kepercayaan adalah fondasi utama dalam setiap aktivitas kebaikan.